KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanrrahim
Alhamdulilahirabbil’alamin puji syukur kehadirat Allah SWT karena hanya
dengan rahmat dan maunahnya lah kita masih bisa merasakan indahnya kehidupan
dan nikmantnya mencari ilmu
Sholawat
dan salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada junjungan kita Nabi
Muhammad SAW, karena dengan kegigihan dan perjuangan beliau kita selaku
ummatnya dapat merasakan manisnya buah perjuangan beliau dalam menjalani segala
akitifitas kita dan mampu mengenal tentang keberadaan Allah tuhan semesta alam.
Kami menyadari hanya dengan pertolongan
allahlah akhirnya kami dapat merampungkan makalah sejarah peradaban islam
dengan tema dinasti-dinasti kecil di timur baghdad: Masa disintegrasi bani
abbas, desentralisasi kekuasaan dan perkembangan ilmu pengetahuan (thahiriyah,
saffariyah, samaniyah, ghaznawiyah dll) ini, walau karena keterbatasan kami
menyadari bagitu banyaknya kekurangan yang ada dalam makalah ini. Mungkin ini
hanyalah sebuah ulasan sederhana namun kami sangat berharap bisa
bermanfaat bagi kita amin.
Kami juga mengucapkan terima kasih
kepada bapak selaku dosen pengampu mata kuliah sejarah peradaban islam yang telah memberikan kesempatan kepada penulis
untuk menyusun makalah ini, serta teman-teman di jurusan Manajemen Pendidikan
Islam, khususnya local A dengan semangat dan motivasinya untuk bersama-sama
menjadi yang terbaik.
Kemudian penulis berharap kepada para pembaca agar
memberikan masukan yang bersifat konstruktif untuk menutupi kekurangan yang
masih ada, penulis juga memohon maaf jika ada kesalahan, dengan harapan semoga makalah ini bermanfaat bagi orang banyak terutama pembaca.
KATA
PENGANTAR .............................................................................. 1
DAFTAR ISI .............................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................... 3
A.
LATAR
BELAKANG .................................................................. 3
B.
RUMUSAN
MASALAH .............................................................. 4
C.
TUJUAN
PEMBAHASAN .......................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN .......................................................................... 4
A.
Dinasti
Thahariyah (205-259 H/821-873M ................................... 4
B.
Dinasti
Safariyah (254-289 H/867-903 M)...................................... 7
C.
Dinasti
Samaniyah (261-389H/874-999 M).................................... 10
D.
Dinasti
Ghaznawiyah(982-1186 M) ............................................. 13
BAB III KESIMPULAN............................................................................ 18
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 21
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Masa kekhalifahan
dinasti Abbasiyah (Bani Abbas) adalah merupakan simbol kemajuan peradaban Islam
dan kemajuan perkembangan ilmu
pengetahuan didunia Islam. Kekhalifahan dinasti Abbasiyah ini berlangsung cukup
lama yakni tahun 750 – 1258 M, dinasti ini di samping mengalami kemajuan yang
cukup pesat juga mengalami kemunduran dan bahkan kehancuran. Masa kekhalifahan
dinasti Abbasiyah dapat dibagi menjadi tiga periode yaitu;
a.
Periode keemasan ( 750
– 950 M),
b.
Periode disintegrasi
(950 – 1050 M)
c.
Periode kemunduran dan
kehancuran ( 1050 – 1258 M).
Adapun yang menjadi
pokok bahasan pada makalah ini adalah periode pertengahan atau masa disintegrasi yang
ditandai dengan hal-hal sebagai berikut
a. Munculnya dinasti-dinasti kecil di barat maupun di timur Baghdad yang berusaha melepaskan diri atau
meminta otonomi
b. Perebutan kekuasaan oleh dinasti
Buwaih dari Persia dan dinasti Seljuk dari Turki di pusat pemerintahan Bani
Abbas di Baghdad sehingga mengakibatkan fungsi khalifah seperti boneka,
c. Lahirnya perang salib antara pasukan Islam dan pasukan salib dari Eropa.
Lebih spesifik lagi
makalah ini akan membahas tentang munculnya dinasti-dinasti kecil di timur
Baghdad yang berusaha melepaskan diri atau meminta otonomi terhadap
pemerintahan pusat, dinasti tersebut adalah dinasti Thahiriyah,
Saffariyah, Samaniyah, Ghaznawiyah
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka agar pembahasan
terarah kami rumuskan masalah sebagai berikut :
1.
Sejarah berdirinya dinasti-dinasti
Thahiriyah, Saffariyah, Samaniyah, Ghaznawiyah?
2. Bagaimana
perkembangan (kemajuan dan kemunduran ) dinasti- dinasti Thahiriyah, Saffariyah,
Samaniyah, Ghaznawiyah?
C.
TUJUAN
Berdasarkan rumusan masalah
di atas maka tujuan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.
Mengetahui sejarah brdirinya
dinasti-dinasti Thahiriyah, Safariyah, Samaniyah, Ghazniyah.
2.
Menngetahui perkembangan baik
kemajuan dan kemunduran dinasti- dinasti Thahiriyah, Safariyah, Samaniyah,
Ghaznawiyah.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Dinasti Thahariyah (205-259 H./ 821-873M.)
1. Sejarah berdirinya
Thahariyah adalah merupakan salah saatu dinati yang
muncul pada masa Daulah Abbasiyah di sebelah timur Baghdad, bepusat di Khurasan
dengan ibu kota Naisabur. Dinasti ini didirikan oleh Thahir ibn Husein pada
205H/821 M di Khurasan, dinasti ini bertahan hingga tahun 259H/873 M.[1] Thahir muncul pada saat pemerintahan Abbasiyah terjadi peerselisihan antara
kedua pewaris tahta kekhalifahan antara Muhammad al-Amin ( memerintah 194-198
H/809-813 M ), anak Harun ar-Rasyid dari istrinya yang keturunan Arab (
Zubaidah) sebagai pemegang kekuasaan di Baghdad dan Abdullah al-Makmun anak
Harun ar-Rasyid dari istrinya yang keturunan Persia, sebagai pemegang kekuasaan
di wlayah sebelah timur Baghdad.[2] Thahir
ibn Husein merupakan seorang jenderal pada masa khalifah Dinasti Abbasiyah yang
lahir di desa Musanj dekat Marw dan dia
berasal dari seorang keturunan wali Abbasiyah di Marw dan Harrah, Khurasan,
Persia bernama Mash’ab ibn Zuraiq. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hubungan
antara pemerintah Abbasiyah di Baghdad dengan keluarga Thahir sudah terjalin
sejak lama. Karena itu cukup beralasan bila pemerintah Baghdad memberikan
kepercayan kepada generasi keluarga Mash’ab ibn Zuraiq untuk melanjutkan estafet
kepemimpinan lokal. Tujuannya tetap sama, menjaga keutuhan wilayah kekuasaan
Islam Abbasiyah di wilayah Timur kota Baghdad dan menjadi pelindung dari
berbagai kemungkinan serangan negara-negara tetangga di Timur.
Sebenarnya, latar belakang kemunculan dinasti ini
diawali oleh peristiwa perebutan kekuasaan antara al-Makmun dengan al-Amin.
Perseteruan tersebut terjadi setelah khalifah Harun al-Rasyid meninggal dunia
pada 809 M. Perseteruan tersebut akhirnya dimenangkan al-Makmun, dan Thahir
berada pada pihak yang menang. Peran Thahir yang cukup besar dalam pertarungan
itu dengan mengalahkan pasukan al-Amin melalui kehebatan dan kelihaiannya
bermain pedang membuat al-Makmun terpesona. Sebagai bentuk penghargaan atas
jasanya itu, al-Makmun memberinya gelar abu al-Yamain atau Zu al-Yaminain (
trampil ), bahkan diberi gelar si mata tunggal, dengan kekuatan tangan yang
hebat (minus one eye, plus an extra right arm). Selain itu, Thahir juga diberi
kepercayaan untuk menjadi gubernur di Khurasan pada tahun 205 H, jabatan ini
diberikan oleh Al-Makmun sebagai balasan atas jerih payahnya dalam medan
perang.[3] Jabatan
ini merupakan peluang bagus baginya untuk meniti karir politik pemerintahan
pada masa itu. Jabatan dan prestasi yang diraihnya ternyata belum memuaskan baginya,
karena ia mesti tunduk berada di bawah kekuasaan Baghdad. Untuk itu, ia
menyusun strategi untuk segara melepaskan diri dari pemerintahan Baghdad. Di
antaranya dengan tidak lagi menyebut nama khalifah dalam setiap kesempatan dan
mata uang yang dibuatnya. Ambisinya untuk menjadi penguasa lokal yang
independen dari pemerintahan Baghdad tidak terealisir, karena ia keburu
meninggal pada 207 H, setelah lebih kurang 2 (dua) tahun menjadi gubernur
(205-207 H). Meskipun begitu, khalifah Bani Abbas masih memberikan kepercayaan
kepada keluarga Thahir untuk memegang jabatan gubernur di wilayah tersebut.
Terbukti setelah Thahir meninggal, jabatan gubernur diserahkan kepada putranya
bernama Thalhah ibn Thahir.
2. Kemajuan-kemajuan yang dicapai
Dinasti Thahiriyyah
mengalami masa kamajuan ketika pemerintahan dipegang oleh Abdullah ibn Thahir,
saudara Thalhah. Abdullah memiliki kekuasaan dan pengaruh yang cukup besar,
belum pernah hal ini dimiliki oleh para Wali sebelumnya.[4] Ia terus
menjalin komunikasi dan kerjasama dengan Baghdad sebagai bagian dari bentuk
pengakuannya terhadap peran dan keberadaan khalifah Abbabsiyah. Perjanjian
dengan pemerintah Bagdad yang pernah dirintis ayahnya, Thahir ibn Husein, terus
ditingkatkan. Peningkatan keamanaan di
wilayah perbatasan terus dilakukan guna menghalau pemberontak dan kaum perusuh
yang mengacaukan pemerintahan Abbasiyah. Setelah itu, ia berusaha melakukan
perbaikan ekonomi dan keamanan. Selain itu, ia juga memberikan ruang yang cukup
luas bagi upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan perbaikan moral atau akhlak
di lingkungan masyarakatnya di wilayah Timur Baghdad. Dalam rangka
mengembangkan ilmu pengetahuan dunia islam, kebudayaan dan memajukan ekonomi,
dinansti ini menjadikan kota Naisabur sebagai pusatnya, sehingga pada masa itu,
negeri Khurasan dalam keadaan makmur dengan pertumbuhan ekonomi yang baik.[5] Adanya
pertumbuhan ekonomi yang baik inilah yang sangat mendukung terhadap kegiatan
ilmu pengetahuan dan kebudayaan pada umumnya.
3. Masa-masa kemunduran
Dalam perjalanan
selanjutnya, dinasti ini justru tidak mengalami perkembangan ketika pemerintahan
dipegang oleh Ahmad ibn Thahir (248-259 H), saudara kandung Abdullah ibn Thahir,
bahkan mengalami masa kemerosotan. Faktornya antara lain;
a. Pemerintahan ini dianggap sudah tidak loyal terhadap pemerintah Baghdad,
karenanya Baghdad memanfaatkan kelemahan ini sebagai alasan untuk menggusur
dinasti Thahiriyah dan jabatan strategis diserahkan kepada pemerintah baru,
yaitu dinasti Saffariyah.
b. Pola dan gaya hidup berlebihan yang dilakukan para penguasa dinasti ini.
Gaya hidup seperti itu menimbulkan dampak pada tidak terurusnya pemerintahan
dan kurangnya perhatian terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban
Islam.
c. Keamanan dan keberlangsungan pemerintahan tidak terpikirkan secara serius,
sehingga keadaan ini benar-benar dimanfaatkan oleh kelompok lain yang memang
sejak lama mengincar posisi strategis di pemerintahan lokal, seperti kelompok
Saffariyah. Kelompok baru ini mendapat kepercayaan dari pemerintah Bagdad untuk
menumpas sisa-sisa tentara dinasti Thahiriyah yang berusaha memisahkan diri
dari pemerintahan Baghdad dan melakukan makar. Dengan demikian, berakhirlah
masa jabatan dinasti Thahiriyah yang pernah menjadi kaki tangan penguasa Abbasiyah
di wilayah Timur kota Baghdad.
B. Dinasti Saffariyah (254 H-289 H /
867 M-903 M)
1. Sejarah Berdirinya
Dinasti Shaffariyah merupakan sebuah dinasti
Islam yang paling lama berkuasa di dunia Islam. Wilayah kekuasaan dinasti
Shaffariyah meliputi kawasan Sijistan, Iran. Dinasti ini didirikan oleh Ya’kub
ibn Layts al-Saffar, seorang pemimpin
kelompok khawarij di provinsi Sistan.[6]
Gelar al-Saffar
dilekatkan di belakang namanya ini menunjukkan bahwa ia adalah seorang ahli
dalam me-nempa tembaga atau kuningan, semacam mpu di Jawa,yang diwarisi secara
turun temurun. Kegagalan usaha keluarganya, menjadikan ia terikat dengan sekelompok orang
yang mengatasnamakan masyarakat kecil untuk melakuan gerakan perampokan.
Sasaran dari kegiatannya ini adalah para saudagar kaya yang melintas di tengah
perjalanan, kemudian diserang dan diambil harta mereka kemudian diberikan
kepada para fakir miskin.[7]
Pada mulanya, Ya’kub ibn Layts bersama
saudaranya bernama ‘Amr ibn Layts membantu pasukan pemerintah Bagdad dalam
memberantas pemberontakan yang dilakukan oleh sisa-sisa tentara Thahiriyah di
wilayah Sijistan. Keberhasilannya di Sijistan, membawanya ke puncak pimpinan
tentara sebagai komandan untuk menaklukkan wilayah Herat, Sind, dan Makran.
Kemudian Kirman dan Persia yang digabungkan dengan Balkh. Atas jasa dan
prestasinya, khalifah al-Mu’tamid mengangkatnya menjadi gubernur membawahi
wilayah Balkh, Turkistan, Kirman, Sijistan dan Sind. Ambisi Ya’kub ternyata
tidak cukup sampai di situ. Ia terus bergerak menuju wilayah lain dan
mengalahkan Fars pada 869 M, dan menduduki Syiraj, ibu kota Fars. Kemudian pada
873 M menduduki Nisabur dan sisa wilayah Thahiriyah.
Dua tahun kemudian, tepatnya pada 875 M, dari Fars ia bergerak menuju Bagdad,
dan berusaha menduduki ibu kota tersebut. Tetapi menjelang ibu kota, lebih
kurang 20 km, pasukannya dihadang oleh pasukan al-Muwaffak pada 876 M.
Kekalahannya ini tidak menyurutkan ambisinya, malah ia bersedia mengadakan
perundingan. Namun sebelum dilaksanakan, ia keburu meninggal dunia pada 879 M. Meskipun
ia dianggap sebagai gubernur yang tidak loyal, yang melampaui batas mandat yang
diberikan khalifah, tetap saja jabatan gubernur untuk wilayah Timur
dipercayakan kepada saudara Ya’kub al-Layts, yaitu Amr ibn Layts.[8]
Dinasti Shaffariyah
yang didirikan oleh Ya’kub ibn Layts al-Saffar ini justeru mengalami kehancuran
ketika jabatan tertinggi di pemerintahan dipegang oleh ‘Amr ibn al-Layts,
karena ambisinya yang ingin memperluas wilayah kekuasannya hingga Transoxania
(ma wara al-nahr). Di wilayah ini gerakannya dihambat oleh Bani Saman, dan
beberapa daerah kekuasaannya diambil alih (aneksasi) oleh Bani Saman, kecuali
Sijistan. Tetapi kekuasannya di Sijistan tidak sepenuhnya merdeka, karena ia
harus tunduk di bawah kekuasaan Bani Saman, dan posisi jabatan gubernur tetap
berada di bawah Bani Shaffariyah hingga abad ke-15 M, meskipun seringkali
terjadi pergantian penguasa. Terkadang Bani Shaffariyah silih berganti berada
di bawah penguasa lain setelah dinasti Samaniyah, seperti menjadi penguasa
lokal (gubernur) yang tunduk pada pemerintahan dinasti Ghaznawiyah, Bani
Saljuk, dan Bangsa Mongol, dan tidak lagi menjadi kepanjangan tangan
pemerintahan Bani Abbas di Bagdad. Tidak dapat diketahui secara pasti mengapa dinasti ini bertahan begitu
lama. Hal pasti yang dapat ditegaskan di sini bahwa keberadaan dinasti ini
karena persoalan politik praktis dan pragmatis. Sebab menurut Jamaluddin Surur,
salah satu ciri khas dari dinasti ini adalah ambisinya untuk memperoleh
kekuasaan otonomi di Sijistan, sebagai pusat pemerintahannya. Karenannya,
ketika kekuasaan datang silih berganti, dinasti ini tetap memperoleh hak otonom
di Sijistan hingga abad ke-15 M.[9]
2. Masa-masa Kemajuan dan Kemundurannya
Perkembangan Dinasti Shaffariyah mengalami
perkembangan pada masa pemerintahan Amr ibn Lays, ia berhasil melebarkan
wilayah kekuasaannya sampai ke Afganistan Timur.
Dalam masa pemerintahannya,terdapat perkembangan yang menarik, terutama
perkembangan civil society berkaitan dengan keadilan. Dinasti Saffariyah
meletakkan dasar-dasar keadilan dan kesamaan hak di antara orang-orang miskin di Sijistan.
Karena itu, faktor inilah yang kemungkinan menjadi salah satu sebab lamanya
dinasti ini berkuasa di Sijistan, karena ia begitu peduli dengan keadaan
masyarakat yang menjadi pendukung pemerintahan, terutama komunitas masyarakat
miskin. Seorang amir abad kesepuluh, Khalaf ibn Ahmad, menjadi termasyhur
sebagai pelindung ilmu pengetahuan.[10]
Pada tahun 393 H/1003 M Mahmud dari Ghazna menguasai
provinsi itu dan menjadikannya sebagai wilayah kekuasaannya, namun Shaffariyah
terus bertahan, dan pada pertempuran Ghaznawiyah-Seljuq pada tahun-tahun
pertengahan abad kesebelas memperkuat posisinya, mula-mula berkuasa sebagai
bawahan Seljuq, kemudian sebagai bawahan ghuriyyah. Bahkan setelah invasi Mongol dan Timur,
kejadian-kejadian yang begitu kalut dan menyedihkan bagi sebagian besar dunia
Islam Timur, Dinasti Shaffariyah berhasil bertahan sampai akhir abad kelima
belas.[11]
C. Dinasti Samaniyah (261 – 389 H. / 874 – 999 M.)
1.
Sejarah berdirinya.
Pendiri dinasti ini adalah Ahmad bin Asad bin Samankhudat. Nama Samaniyah
dinisbahkan kepada leluhur pendirinya yaitu Samankhudat, seorang pemimpin suku
dan tuan tanah keturunan bangsawan terkenal di Balkh, sebuah daerah di sebelah
utara Afghanistan.
Dalam sejarah Samaniyah terdapat dua belas khalifah yang memerintah secara
berurutan, yaitu;
1) Ahmad I ibn Asad ibn Saman (Gubernur Farghana)204 H/819 M
2) Nash I ibn Ahmad, (semula Gubernur Samarkand)250 H/864 M
3) Ismail I ibn Ahmad 279 H/892 M
4) Ahmad II ibn Ismail 295 H/907 M
5) Al-Amir as-Sa’id Nashr II 301 H/914 M
6) Al-Amir al-Hamid Nuh I 331 H/943 M
7) Al-Amir al-Mu’ayyad Abdul Malik I 343 H/954 M
8) Al-amir as-Sadid Manshur I 350 H/961 M
9) Al-Amir ar-Ridha Nuh II 365
H/976 M
10) Mansur II 387 H/997 M
11) Abdul Malik II 389 H/999 M
12) Ismail II Al-Muntashir 390-395H/1000-1005
M
Dinasti ini berbeda dengan dinasti kecil lain yang berada di sebelah barat
Baghdad, dinasti ini tetap tunduk kepada kepemimpinan khalifah Abbasiyyah.[12]
Dalam sejarah Islam tercatat bahwa dinasti ini bermula dari masuknya
Samankhudat menjadi penganut Islam pada masa khalifah Hisyam bin Abdul Malik
(khalifah Bani Umayyah), sejak itu Samankhudat dan keturunannya mengabdikan
diri kepada penguasa Islam. Pada masa kekuasaan al-Ma’mun (198-218 H/813-833 M)
dari dinasti Bani Abbasiyyah, empat cucu Samankhudat memegang jabatan penting
sebagai gubernur dalam wilayah kekuasaan Abbasiyah yaitu Nuh di Samarkand,
Ahmad bin Asad di Farghana (Turkistan) dan Transoksania, Yahya bin Asad di
Shash serta Asyrusanah (daerah di utara Samarkand), dan Ilyas di Heart, Afghanistan.[13]
Seorang cucu Samankhudat yang bernama Ahmad bin Asad, dalam perkembangannya
mulai merintis berdirinya Dinasti Samaniyah didaerah kekuasaannya, Farghana.
Ahmad mempunyai dua putra, Nasr dan Isma’il, yang juga menjadi orang kepercayaan
khalifah Abbasiyah. Nasr I bin Ahmad dipercayakan menjadi gubernur di
Transoksania dan Isma’il I bin Ahmad di Bukhara. Selanjutnya Nasr I bin Ahmad
mendapat kepercayaan dari khalifah al-Mu’tamid untuk memerintah seluruh wilayah
Khurasan dan Transoksania, dan daerah ini menjadi basis perkembangan dinasti
Samaniyyah. Karenanya Nasr I bin Ahmad dianggap sebagai pendiri hakiki dinasti
ini. Antara Nasr dan saudaranya, Isma’il selalu
terlibat konflik yang mengakibatkan terjadinya peperangan, dalam peperangan yang terjadi Nasr
mengalami kekalahan yang kemudian ia ditawan, sehingga kepemimpinan Dinasti
Samaniyyah beralih ke tangan Isma’il I bin Ahmad. Adanya peralihan kepemimpinan
ini menyebabkan berpindahnya pusat pemerintahan yang semula di Khurasan
dipindahkan ke Bukhara.
Pada saat pemerintahan dipimpin Isma’il I bin Ahmad, ia selalu berusaha
untuk;
a. Memperkukuh kekuatan dan mengamankan batas wilayahnya dari ancaman suku
liar Turki.
b. Membenahi administrasi pemerintahan.
c. Memperluas wilayah kekuasaan ke Tabaristan (Irak utara) dan Rayy (Iran).
Isma’il I bin Ahmad adalah orang yang sangat mencintai dan memuliakan para
ilmuwan serta bertindak adil terhadap rakyatnya, setelah ia wafat pemerintahan
diteruskan putranya Ahmad bin Isma’il. Setelah Ahmad bin Isma’il, pemerintahan
diteruskan putranya Nasr II bin Ahmad yang berhasil memperluas wilayah
kekuasaannya hingga Sijistan, Karman, Jurjan di samping Rayy, Tabaristan, Khurasan,
dan transoksania. Setelah Nasr II bin Ahmad, para khalifah berikutnya tidak
mampu lagi melakukan perluasan wilayah, bahkan pada khalifah terakhir Isma’il
II al-Muntasir, tidak dapat mempertahankan wilayahnya dari serbuan tentara
dinasti Qarakhan dan dinasti Ghaznawiyah dari Turki. Akhirnya wilayah Samaniyah
dipecah menjadi dua, daerah Transoksania direbut oleh Qarakhan dan wilayah
Khurasan menjadi pemilik penguasa Ghaznawiyah.
2. Kemajuan-kemajuan yang di capai
Dinasti Samaniyah telah memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi
kemajuan Islam, baik dalam bidang ilmu pengetahuan, filasafat, budaya, politik,
dan lain-lain. Tokoh atau pelopor yang sangat berpengaruh dibidang filsafat dan
ilmu pengetahuan pada dinasti ini adalah Ibn Sina, selain beliau juga muncul
para pujangga dan ilmuwan dibidang kedokteran, astronomi dan filsafat yang
sangat terkenal, seperti Al-Firdausi, Ummar Kayam, Al-Bairuni dan Zakariya Ar-
Razi.[14] Dinasti
ini telah berhasil menciptakan kota Bukhara dan Samarkan sebagai kota budaya
dan kota ilmu pengetahuan yang sangat terkenal di seluruh dunia, sehingga kota
ini dapat menyaingi kota-kota lain, seperti Baghdad dan Cordova. Dinasti ini
juga telah berhasil mengembangkan perekonomian dengan baik, sehingga kehidupan
masyarakatnya sangat tentram, hal terjadi karena dinasti ini tidak pernah lepas
hubungan dengan pemerintah pusat di Baghdad.
3. Masa-masa kemunduran
Pada saat dinasti mencapai kejayaannya, banyak imigran Turki yang menduduki
posisi penting dalam pemerintahan, namun bersebab dari tingginya fanatic
kesukuan pada dinasti ini, akhirnya mereka para imigran Turki yang menduduki
jabatan penting dalam pemerintahan tersebut banyak yang dicopot,
langkah-langkah inilah yang menyebabkan kehancuran dinasti ini, karena mereka
tidak terima dengan perlakuan tersebut, sehingga mereka mengadakan penyerangan
sampai mereka berhasil melumpuhkan dinasti ini.
D. Dinasti Ghaznawiyah (962-1186 M)
1. Sejarah berdirinya
Dinasti ini didirikan
pada 962 M oleh Sabuktakin, menantu Alptakin. Alptakin adalah seorang perwira
Turki profesional di Bukhara, wilayah yang pernah menjadi daerah kekuasaan
dinasti Samaniyah. Ketika itu, ia menganggap penting untuk melakukan ekspansi
ke wilayah Afghanistan Timur dan mengangkat dirinya sebagai penguasa di daerah
Ghazna. Kemudian pada 977 M tentara Turki di Ghazna mengangkat Sabuktakin
sebagai pemimpin mereka. Dalam catatan sejarah, Sabukakin inilah yang kemudian
dianggap sebagai pendiri dinasti Ghaznawiyah. Kemudian setelah kematiannya,
pada 998 M jabatan tersebut diserahkan kepada anaknya bernama Mahmud ibn
Sabuktakin.
Setelah kekuasaan
dinasti Samaniyah runtuh, Mahmud ibn Sabuktakin memproklamirkan dirinya menjadi
penguasa independen dengan sebutan Mahmud al-Ghaznawi. Ia terus berusaha
memperluas wiayah kekuasaannya atas Khurasan dan wilayah sekitaranya. Di
Khurasan ini ia mulai melakukan penyebutan nama-nama khalifah Abbasiyah dalam
setiap khutbah Jum’at, yang sebelumnya terabaikan. Hal itu terjadi karena
perbedaan ideologi politik dan keagamaan, sebab dinasti Samaniyah berideologi
Syi’ah, sementara Mahmud Ghaznawi Sunni. Sebagai imbalan atas penyebutan itu,
khalifah Abbasiyah memberikan jabatan kepada Mahmud al-Ghaznawi sebagai
gubernur di wilayah Khurasan dengan gelar Wali Amir al-Mukminin. Selain itu, ia
juga memperoleh gelar Yamin al-Daulah dari khalifah al-Qadir, bahkan kemudian
ia menyebut dirinya sebagai sultan.
Selama masa
kepemimpinannya, ia berusaha memperoleh pendapatan melalui pajak dan pendapatan
lainnya. Semua dikumpulkan, sehingga Mahmud memiliki kekayaan yang cukup yang
dapat dipergunakan untuk melakukan perluasan wilayah ke anak benua India.
Sekitar tahun 1001 M ia berhasil menaklukkan Kabul, Multan, Kashmir, dan
Punjab. Setelah itu, kemudian ia melakukan ekspedisi ke lembah Gangga, dan baru
pada 1025 M ia berhasil menaklukkan Gujarat, India. Selama masa kekuasaannya
lebih kurang 32 tahun, dipergunakan untuk memperluas wilayah kekuasaan,
sehingga ketika ia wafat pada 1030 M wilayah kekuasaannya meliputi Punjab dan
lembah Indus di India, seluruh Afghanistan dan Persia Timut. Sepeninggal Mahmud
al-Ghaznawi, puteranya bernama Mas’ud ibn Mahmud al-Ghaznawi menggantikan
posisinya. Penggantian ini berada di luar skenarionya. Ia sebenarnya
berkehendak agar putera tertuanya bernama Muhamad ibn Mahmud al-Ghaznawi
menduduki jabatan sebagai sultan, tetapi keinginan tersebut tidak diterima oleh
kalangan militer, karena Muhamad dianggap kurang berpengalaman dalam melakukan
ekspedisi, sementara Mas’ud ibn Mahmud al-Ghaznawi dianggap memiliki pengalaman
karena sering mengikuti kegiatan ekspedisi yang dilakukan tentara, selain
tengah menjabat gubernur di propinsi Barat. Tetapi setelah ia berkuasa, justeru
malah kurang mengindahkan nasihat dewan negara agar menghentikan sejenak
usahanya untuk melakukan ekspedisi ke seluruh Anak Benua India, karena di
Khurasan tengah terjadi gejolak yang dilakukan oleh orang-orang Saljuk.
Akhirnya, setelah kian banyak orang-orang Saljuk yang masuk dan menguasai
beberapa wilayah Khurasan, ia kewalahan, sebab ia harus berhadapan dengan
mereka. Usaha untuk mengatasi gejolak politik yang dilakukan tentara Saljuk
tidak dapat dibendung, bahkan tentaranya mengalami kekalahan besar. Akibatnya
lebih tragis lagi, ia tewas di tangan pasukannya sendiri dalam perjalanan
menuju Lahora, India. Konflik fisik antara pasukan Ghaznawiyah dengan Saljuk
terus berlanjut hingga beberapa tahun lamanya.
2. Kemajuan Dinasti Ghaznawiyah
Pemerintahan dinasti Ghaznawiyah mengalami kejayaan
pada masa pe-merintahan Mahmud al-Ghazna yang berkuasa selama lebih kurang 34
tahun. Kekuatan yang dimilikinya dapat dipergunakan untuk memperluas wilayah
ke-kuasaan hingga mencapai wilayah India, hingga berhasil menaklukan Peshawar,
Kashmir, dan Bathinda pada 1001-1004 M. Punjab dikuasai pada 1006 M, Kangra
pada 1009, Baluchistan pada 1011-1012 M, kemudian Delhi pada 1014-1015 M.
Wilayah yang luas dan sumber kekayaan yang melimpah, membuat ekonomi negeri ini
sangat kuat, sehingga dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran negeri.
Perhatian penguasa dinasti Ghaznawiyah, khususnya Mahmud al-Ghaznawi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban tercermin dari usahanya yang konkret dengan mendirikan gedung-gedung sekolah dan lembaga lembaga pendidikan lainnya, sehingga kota Ghazna menjadi pusat pengkajian ilmu pengetahuan yang dikunjungi banyak ilmuan. Salah seorang ilmuan terkenal yang hidup pada masa Mahmud al-Ghaznawi adalah al-Firdausi (w.1020 M), seorang sastrawan yang sangat berjasa dalam kebangkitan kembali sastra Persia, dan juga pelopor perkembangan seni arsitektur. Ia diminta Mahmud al-Ghaznawi untuk menulis sebuah karya yaitu Ayahnamah. Karya ini menjadi sebuah karya monumental pada masa itu. selain al-Firdausi, terdapat sastrawan terkenal lainnya di Ghazna, seperti Asadi Tusi, Asjadi dan Farukhi. Tokoh lainnya bernama Unsuri, seorang pemikir, ilmuan dan sastrawan yang menjadi guru besar di sebuah universitas yang dibangun Mahmud al-Ghaznawi. Di antara mereka yang terkenal dan berhasil menciptakan teori adalah al-Biruni (973-1057 M). Dalam catatan biografinya, ia pernah ikut serta bersama Mahmud al-Ghaznawi melakukan ekspedisi ke wilayah India dan mempelajari bahasa Sanskerta. Dari penelitiannya itu, ia menulis sebuah karya berjudul Tahqieq al-Hind (penelitian tentang India). Selain itu, ia juga menguasai ilmu kimia dan berhasil melakukan penelitian atau eksperimen tentang berat jenis beberapa zat kimia.
Perhatian penguasa dinasti Ghaznawiyah, khususnya Mahmud al-Ghaznawi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban tercermin dari usahanya yang konkret dengan mendirikan gedung-gedung sekolah dan lembaga lembaga pendidikan lainnya, sehingga kota Ghazna menjadi pusat pengkajian ilmu pengetahuan yang dikunjungi banyak ilmuan. Salah seorang ilmuan terkenal yang hidup pada masa Mahmud al-Ghaznawi adalah al-Firdausi (w.1020 M), seorang sastrawan yang sangat berjasa dalam kebangkitan kembali sastra Persia, dan juga pelopor perkembangan seni arsitektur. Ia diminta Mahmud al-Ghaznawi untuk menulis sebuah karya yaitu Ayahnamah. Karya ini menjadi sebuah karya monumental pada masa itu. selain al-Firdausi, terdapat sastrawan terkenal lainnya di Ghazna, seperti Asadi Tusi, Asjadi dan Farukhi. Tokoh lainnya bernama Unsuri, seorang pemikir, ilmuan dan sastrawan yang menjadi guru besar di sebuah universitas yang dibangun Mahmud al-Ghaznawi. Di antara mereka yang terkenal dan berhasil menciptakan teori adalah al-Biruni (973-1057 M). Dalam catatan biografinya, ia pernah ikut serta bersama Mahmud al-Ghaznawi melakukan ekspedisi ke wilayah India dan mempelajari bahasa Sanskerta. Dari penelitiannya itu, ia menulis sebuah karya berjudul Tahqieq al-Hind (penelitian tentang India). Selain itu, ia juga menguasai ilmu kimia dan berhasil melakukan penelitian atau eksperimen tentang berat jenis beberapa zat kimia.
Dengan melihat data tersebut, dapat dipahami bahwa
kemajuan ilmu pengetahuan, sastra dan sebagainya merupakan sebuah kenyataan
historis bahwa pemerintah sangat memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan
ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Pemerintah selalu memberikan motivasi
kepada para ilmuan untuk melakukan riset guna memperoleh hasil maksimal. Bahkan
Mahmud al-Ghaznawi tak segan mengajak para ilmuan untuk mengikuti kegiatan
ekspansinya ke wilayah-wilayah lain, termasuk ke India. Di wilayah taklukkan
inilah para ilmuan melakukan riset sehingga menghasilkan karya yang monumental,
seperti karya al-Firdausi dan al-Biruni.
3. Kemunduran Dinasti Ghazaniwiyah
Sepeniggal sultan Mahmud al-Ghaznawi, dinasti
Ghaznawiyah menunjukkan tanda–tanda kelemahan. Hal itu disebabkan antara lain,
karena sumber pendapatan negara semakin berkurang, terlebih setelah Tughrul
Bek, amir Saljuk, menguasai wilayah Khurasan, dan beberapa wilayah di bagian
Timur memisahkan diri dari pemerintahan dinasti Ghaznawiyah. Pemisahan wilayah
ini merupakan fenomena politik yang tidak stabil, sehingga beberapa wilayah di
bagian Anak Benua Inda mencoba mendirikan kerajaan-kerajaan Islam kecil.
Sementara di bagian Utara dan bagian Barat, keluarga Khan dari Turkestan dan
keluarga Saljuk dari Persia membagi-bagi wilayah kekuasaan Ghaznawiyah. Sedang
pada bagian Tengah kelompok Ghuriyah dari Afghanistan melakukan serangan
terhadap kekuasaan dinasti Ghaznawiyah.
Pada masa Mas’ud ibn Mahmud al-Ghaznawi berkuasa,
dinasti Ghaznawiyah mengalami kemunduran luar biasa, karena wilayah Khurasan
dan Khawarizm jatuh ke tangan Saljuk. Pada pertengahan abad ke-11 M, Mas’ud
disibukkan dengan peperangan melawan kekuatan Bani Saljuk yang mau menguasai
Sijistan dan Afghanistan Barat. Dari 1040-1059 M, pertempuran terus
berlangsung, antara dinasti Ghaznawiyah dengan Bani Saljuk. Perdamaian antara
dinasti Ghaznawiyah dengan Bani Saljuk baru terjadi setelah Ibrahim berkuasa.
Perjanjian itu berlangsung lebih kurang selama setengah abad. Dalam isi
perjanjian, Ibrahim harus menyarahkan wilayah Afghanistan Barat kepada Bani
Saljuk, sehingga wilayah kekuasaan Ghaznawiyah hanya meliputi wilayah
Afghanistan bagian Timur dan India Utara.
Selain faktor eksternal, kemunduran dinasti
Ghaznawiyah juga disebabkan oleh konflik internal keluarga. Konflik itu
disebabkan oleh perebutan kekuasaan antara Muhamad dengan Mas’udal-Ghaznawi,
hingga menimbulkan pertempuran. Dalam pertempuran, Mas’ud tewas terbunuh. Namun
kematian Mas’ud tidak diterima oleh anaknya, yaitu Maudud ibn Mas’ud
al-Ghaznawi. Untuk membalas dendam atas kematian ayahnya, ia melakukan
penyerangan terhadap keluarga Muhamad dan membunuh mereka, kecuali Abd
al-Rahim, yang diketahui Maudud termasuk orang yang tidak setuju atas
pembunuhan Mas’ud ibn Mahmud al-Ghazna, ayah Maudud. Sejak saat itu, Maudud ibn
Mas’ud al-Ghaznawi mengambil alih kekuasaan menjadi sultan. Namun sepeninggal
Maudud, konflik internal itu muncul kembali, hingga dalam sejarah diketahui
telah terjadi peralihan kekuasaan yang silih berganti antara keluarga Maudud
ibn Mas’ud.
Situasi politik semakin kacau setelah terjadi konflik
internal dalam perebutan kekuasaan. Misalnya, setelah Maudud meninggal,
puteranya bernama Mas’ud II ibn Maudud menggantikan posisinya. Tetapi, dalam
perjalanan selanjutnya, kekuasaan Mas’ud II direbut oleh pamannya sendiri,
yaitu Ali ibn Mas’ud I. Jabatan Ali ibn Mas’ud I juga direbut kembali oleh Abd
al-Rasyid ibn Mahmud. Kekuasaan Abd al-Rasyid ibn Mas’ud ini juga diambil alih
oleh Tughrul, bekas ajudan dan pengawal pribadi Maudud ibn Mas’ud al-Ghaznawi.
Tetapi, nasib naas menimpa Tughrul, karena ia sendiri tewas di tangan
tentaranya sendiri yang tidak setuju atas usahanya merebut kekuasaan dari
tangan Abd al-Rasyid ibn Mas’ud. Setelah itu, mereka kemudian mengangkat
Fakhruzad ibn Mas’ud I sebagai sultan Ghaznawiyah. Kemudian ia digantikan oleh
saudaranya bernama Ibrahim ibn Mas’ud I. Ibrahim digantikan lagi oleh Mas’ud
III. Sepeninggal Mas’ud III, dinasti Ghaznawiyah benar-benar mengalami
kelemahan, karena konflik internal terus terjadi hingga akhirnya dinasti ini
mengalami kehancuran.
4. Kehancuraan Dinasti Ghaznawiyah
Sepeninggal Mas’ud III, kekuasaan jatuh ke tangan
anaknya bernama Syirzad dengan mengalahkan saudara-saudaranya, Arslan Syah dan
Bahram Syah. Setelah berkuasa selama satu tahun, Syirzad digulingkan oleh
Arselan Syah. Tapi setelah ia berkuasa lebih kurang 2 tahun, kekuasananya juga
digulingkan oleh Bahram Syah. Untuk merebut kembali kekuasaan itu, Arslan Syah
melakukan serangan balik, tapi serangan tersebut dapat dipatahkan Barham Syah,
dan Arslan Syah kemudian ditangkap dan dibunuh. Setelah Bahram Syah, posisinya
digantikan oleh Khusrav Syah, puteranya sendiri. Setelah Khusrav Syah, jabatan
sultan dipegang oleh Khusrav Malik, putera Khusrav Syah. Ia merupakan sultan
Ghaznawiyah terakhir yang menyaksikan kekuasaannya dicabik-cabik oleh pasukan
Ghurriyah dari Afghanistan. Kemudian Syihabuddin dari Ghur memaksa Khusrav
Malik di Lahore untuk membayar pajak kepadanya. Bahkan dalam sejarah diketahui
Khusrav Malik bersama anaknya, Malik Syah ditahan dan dibunuh oleh Syihabuddin
Ghurri.
Dengan peristiwa tragis itu, maka berakhirlah
kekuasaan dinasti Ghaznawiyah.
BAB III
KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
- Pada masa kekhalifahan dinasti Abbasiyyah, setelah khalifah al-Ma’mun
khalifahnya lemah-lemah (di Baghdad) sehingga memberikan otonomi kepada
daerah-daerah, khususnya di timur Baghdad ada dinasti Thahiriyyah,
saffariyah,Samaniyyah dan .ghaznawiyah.
- Keberadaan dinasti-dinasti tersebut pada satu sisi membawa kamajuan
khususnya perluasan wilayah kekuasaan, dan juga perkembangan ilmu
pengetahuan. Pada sisi yang lain dinasti-dinasti tersebut mengalami
konflik internal sehingga tidak mengalami kelanggengan, hal ini mengakibatkan
kehancuran dinasti tersebut pada khususnya dan pemerintahan bani Abbasiyah
pada umumnya.
3.
Upaya yang dilakukan oleh dinasti Thahiriyah adalah;
a.
Perbaikan ekonomi dan keamanan.
b.
Pengembangan
ilmu pengetahuan.
Adapun penyebab
dari kehancuran dinasti ini adalah :
a. Dinasti ini tidak lagi loyal terhadap pemerintah pusat.
b. Pola dan gaya hidup pemimpinnya yang berlebih-lebihan.
c. Bidang keamanan dan pemerintahan sering diabaikan.
4.
Upaya yang dilakukan oleh dinasti Saffariyah adalah:
a. Melakukan ekpansi sampai ke afganistan timur
b. Melakukan perkembangan civil society tentang keadilan.
5.
Upaya yang dilakukan oleh dinasti Sammaniyah adalah :
a. Mengamankan batas wilayahnya dari ancaman suku Turki.
b. Membenahi
administrasi pemerintahan.
c. Memperluas wilayah hingga ke Asia.
d. Menjadikan Bukhara sebagai pusat ilmu pengetahuan.
Adapun penyebab
dari kehancuran dinasti ini adalah :
a. Tidak mampu mempertahankan wilayahnya dari serbuan tentara dinasti Qorakhan
dan Ghaznawiyah.
6.
Upaya yang dilakukan oleh dinasti Ghaznawiyah adalah :
a. Melakuka
ekpansi sampai ke India
b. Melakukan
perkembangan ilmu dengan mendirikan sekolah-sekolah
Penyebab kehancuran dinasti ini
antara lain:
a. Tidak mampu mempertahankan wilayahnya dari serbuan tentara dinasti Qorakhan
dan Ghaznawiyah.
DINASTI-DINASTI
KECIL DI TIMUR BAGHDAD:
Masa
Disintegrasi Bani Abbas, Desentralisasi Kekuasaan Dan Perkembangan Ilmu
Pengetahuan
(Thahiriyah,
Saffariyah, Samaniyah, Ghaznawiyah Dll)
Diajukan
untuk memenuhi tugas kuliah materi Sejarah Peradaban Islam
Presented
by:
ZAMRATUT
THARIQAH
147100017
PROGRAM
PASCA SARJANA
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2014-2015
DAFTAR RUJUKAN
Al-usairy, Ahmad. at-Tarikhul Islami,( H.Samson Rahman ; ____, Terj.
2003),
Amin, Syamsul Munir.. Sejarah Peradaban
Islam. Jakarta: Amzah, 2009
Dedi Supriyadi, Sejarah
peradaban Islam,Bandung. CV,Pustaka Setia, 2008
Perpustakaan Nasional
RI. Ensiklopedi Islam,(Jakarta;Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002).
Perpustakaan Nasional
RI. Ensiklopedi Islam. Jakarta :
Ichtiar Baru van Hoeve, 2005.
http//danankBlogs_dinasti-dinasti.kecil di
Baghdad. Wordpress.com.
http://banjirembun.blogspot.com/2012/06/artikel-peradaban-islam-dinasti.html
http://ra4103gmail.blogspot.com/2011/11/dinasti-dinasti-di-timur-baghdad.html
http://ra4103gmail.blogspot.com/2011/11/dinasti-dinasti-di-timur-baghdad.html
[1] Perpustakaan
Nasional RI, Ensiklopedi Islam ,( Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve,2002), hal.33
[2] Perpustakaan
Nasional RI, Ensiklopedi Islam ,( Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve,2002), hal.33
[3] Ahmad
Al-usairy, at-Tarikhul Islami ,( H.Samson Rahman ; ____, Terj. 2003),
Hal.262
[4]Ahmad
Al-usairy, at-Tarikhul Islami ,( H.Samson Rahman ; ____, Terj. 2003),
Hal.87
[5] Dedi Supriadi,
Sejarah Peradaban Islam, hal 151
[6] Syamsul Munir Amin,
Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2009), hal 275.
[7] Hitty, hal 586
[8] http://ra4103gmail.blogspot.com/2011/11/dinasti-dinasti-di-timur-baghdad.html
[9]
http://ra4103gmail.blogspot.com/2011/11/dinasti-dinasti-di-timur-baghdad.html
[11] http//danankBlogs_dinasti-dinasti.kecil
di Baghdad. Wordpress.com.
[12] Perpustakaan
Nasional RI. Ensiklopedi Islam,
(Jakarta ; Ichtiar Baru van Hoeve, 2005), hal.159.
[13] Ahmad
Al-usairy, at-Tarikhul Islami,( H.Samson Rahman ; ____, Terj. 2003), Hal.266
Tidak ada komentar:
Posting Komentar