Senin, 01 Desember 2014

makalah filsafat

 KATA PENGANTAR ..............................................................................        1
DAFTAR ISI ..............................................................................................        2
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................        3
A.    LATAR BELAKANG  ..................................................................        4
B.     RUMUSAN MASALAH  ..............................................................        4
C.     TUJUAN PEMBAHASAN  ..........................................................        4
BAB II PEMBAHASAN  ..........................................................................        4
A.    Pengertian filsafat Isyraqiyah   .......................................................        4
B.     Sumber-Sumber Pemikiran Isyraqiyah ............................................        6    
C.     Pemikiran filsafat iysraqiyah ...........................................................        7
D.    Metode Mendapatkan Pengetahuan    ............................................        8
BAB III KESIMPULAN............................................................................      10
DAFTAR PUSTAKA  ...............................................................................      11







PENDAHULUAN

A.           LATAR BELAKANG


Filsafat Islam merupakan suatu ilmu yang masih diperdebatkan pengertian dan cakupannya oleh para ahli tetapi banyak ahli mengatakan bahwa Filsafat Islam itu memang ada terbukti exis sampai sekarang. Dalam dunia filsafat Islam terdapat dua aliran besar yaitu aliran peripatetis dan iluminasi. Mengerti dan mengetahui kedua aliran ini adalah hal yang sangat penting ketika kita ingin mengkaji filsafat Islam, karena semua filsuf khususnya muslim pada akhirnya merujuk dan berkaitan kepada dua aliran ini.
Aliran peripatetik merupakan aliran yang pada umumnya diikuti oleh kebanyakan filsuf, sedangkan aliran iluminasi merupakan tandingan bagi aliran peripatetik. Aliran iluminasi ini dipelopori oleh seorang tokoh filsuf muslim yaitu Suhrawardi al Maqtul yang dikenal juga dengan sebutan bapak iluminasi. Suhrawardi dikenal dalam kajian Filsafat Islam karena kontribusinya yang sangat besar dalam mencetuskan aliran iluminasi sebagai tandingan aliran peripatetik dalam filsafat, walaupun dia masih dipengaruhi oleh para filsuf barat sebelumnya. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena sebagian atau bahkan keseluruhan bangunan Filsafat Islam ini dikatakan kelanjutan dari filsafat barat yaitu Yunani. Hal pemikiran Suhrawardi dalam filsafat yang paling menonjol adalah usahanya untuk menciptakan ikatan antara tasawuf dan filsafat. Dia juga terkait erat dengan pemikiran filsuf sebelumnya seperti Abu Yazid al Busthami dan al Hallaj, yang jika diruntut ke atas mewarisi ajaran Hermes, Phitagoras, Plato, Aristoteles, Neo Platonisme, Zoroaster dan filsuf-filsuf Mesir kuno. Kenyataan ini secara tidak langsung mengindikasikan ketokohan dan pemikirannya dalam filsafat.
Dalam kesempatan ini penyusun akan mencoba memaparkan Filsafat isyraqiyah  Suhrawardi, tapi walaupun demikian penyusun menyadari dalam penyusunan makalah ini banyak sekali kekurangan baik dari segi penulisan ataupun dari segi pemaparannya dikarenakan kedangkalan ilmu penyusun dalam memahami Filsafat isyraqiyah Suhrawardi. Untuk itu penyusun meminta saran dan kritiknya terhadap makalah ini.



B.            RUMUSAN MASALAH

1.      Apa pengertian filsafat isyraqiyah ?
2.      Apa sumber-sumber pemikiran isyraqiyah ?
3.      Apa pemikiran filsafat isyraqiyah ?
4.      Bagaimana metode mendapatkan pengetahuan menurut filsafat israqiyah?

C.      TUJUAN PEMBAHASAN

1.      Untuk mengetahui pengertian filsafat isyraqiah
2.      Untuk  mengetahui sumber-sumber pemikiran isyraqiyah
3.      Untuk mengetahui pemikiran filsafat isyraqiyah
4.      Untuk mengetahui metode mendapatkan pengetahuan menurut  filsafat isyraqiyah


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian filsafat isyraqiyah
Kata isyraq yang mempunyai padanan llumination dalam bahasa inggris mempunyai arti cahaya atau penerangan. Dalam bahasa filsafat, iluminationisme berarti sumber kontemplasi atau perubahan bentuk dari kehidupan emosional untuk mencapai tindakan dan harmoni. Bagi kaum isyraq apa yang disebut hikmah bukanlah sekedar teori yang diyakini melainkan perpindahan rohani secara praktis dari alam kegelapan yang didalamya pengetahuan dan kebahagiaan. Merupakan sesuatu yang mustahill, kepada cahaya yang bersifat akali yang didalamnya pengetahuan dan kebahagiaan dicapai bersama-sama. Karena itu menurut kaum isyraqi sumber pengetahuan adalah penyinaran yang itu berupa semacam hads yang menghubungkan dengan subsatansi cahaya.[1]
Lebih jauh, cahaya adalah simbol utama dari filsafat isyraqi. Simbolisme cahaya digunakan untuk menetapkan suatu faktor yang menentukan wujud, bentuk, materi, hal-hal masuk akal yang primer dan sekunder, intelek, jiwa, zat individual dan tingkat-tingakat intensitas pengalaman mistik. Jelasnya penggunaan simbol-simbol cahaya merupakan karakter dari bangunan filsafat isyraqiah.
Simbolisme cahaya digunakan oleh suhrawardi untuk menggambarkan masalah-masalah ontologis dan khususnya untuk memaparkan struktur-struktur kosmologis. Sebagai contoh wujud niscaya (swa ada) dalam peripatetik disebut cahaya dari segala cahaya (nur al-anwar), intelek-intelek terpisah disebut cahaya-cahaya abstrak (anwar mujarradah).[2] Tampaknya simbolisme cahaya dinilai lebih cocok dan sesuai untuk menyampaikan prinsip ontologis wujud ekuivokal, karena lebih mudah dipahami bahwa cahaya mungkin mempunyai intensitas yang berbeda meskipun esensinya sama. Dan juga dianggap lebih dapat diterima untuk membahas kedekatan dan kejauhan dari sumber sebagai indikasi akan derajat kesempurnaan ketika simbolisme digunakan. Sebagai contoh semakin dekat suatu entitas dengan sumbernya yaitu cahaya dari segala cahaya, maka semakin terang cahaya entitas tersebut. Sedangkan ketidakadaan cahaya atau kegelapan mengidentikkan ketidak wujudan (non wujud).
Hikmah yang didasarkan pada dualisme cahaya dan kegelapan yang ketimuran ini menurut suhrawardi merupakan warisan para guru mistis persia. Hikmah ini sebenarnya terwakili di barat seperti plato. Al-bhusthomi dan al-hallajj melanjutkan tradisi ini dan puncaknya ada pada diri suhrawardi sendiri.[3]
 Inti hikmah iluminasi bagi suhrawardi adalah ilmu cahaya yang membahas sifat dan cara pembiasannya. Cahaya ini menurutnya tidak dapat di definisikan karena ia merupakan realitas yang paling nyata sekaligus menampakkan sesuatu. Cahaya ini juga merupakan substansi yang masuk kedalam komposisi semua substansi yang lain-meteril maupun imateril. hubungannya dengan objek-objek dibawahnya cahaya ini memiliki dua bentuk yaitu, cahaya yang terang pada dirinya sendiri dan cahaya yang terang sekaligus menerangi lainnya. Cahaya yang terakhir ini menerangi segala sesuatu, namun bagaimana statusnya, cahaya tetaplah sesuatu yang terang dan sebagaimana disebutkan ia merupakan sebab tampaknya sesuatu yang tidak bisa tidak beremanassi darinya.


B.     Sumber-Sumber Pemikiran Isyraqiyah
Tentang sumber-sumber pengetahuan yang membentuk pemikiran  isyraqi suhrawardi, menurut SH, Nasr yang dikutip oleh A. Khodlori  sholeh, terdiri atas lima aliran. Pertama  pemikiran-pemikiran sufisme, khususnya karya-karya al- Hallaj(858-913 M) dan al- Ghazali (1058-1111 M). Salah satu  karya al- Ghazali, misykat al-Anwar,  yang menjelaskan adanya hubungan anatara nur (cahaya) dengan iman, mempunyai pengaruh langsung pada pemikiran illuminasi Suhrawarsi. Kedua,  pemikiran filsafat parepatik Islam khususnya filsafat ibnu Sina. Meski Suhrawardi mengkritik sebagiannya tetapi ia memandangnya sebagai azas penting dalam memahami keyakinan-keyakinan.  Ketiga, pemikiran filsafat sebelum islam, yakni aliran Pyithagoras( 580-500 SM), Platonisme dan Hermenisme sebagaimana yang tumbuh di alexanderia, kemudian dipelihara dan di sebarkan di timur Dekat Kaum syabiah Harran, yang memandang kumpulan aliran Hermes sebagai kitab samawi mereka.  Keempat,  pemikiran-pemikran (hikmah)  iran-Kuno. Disini suhrawardi mencoba membangkitkan keyakinan-keyakinannya secara baru dan memandang para pemikir Iran-kuno sebagai pwaris langung hikmah yang turun sebelum datanganya bencana taufan yang menimpa kaum Nabi Idris (Hermes), Kelima,  bersandar pada ajaran Zoroater dalam menggunakan lambang-lambang cahaya dan kegelapan, khususunya dalam ilmu malaikat, yang kemudian di tambah dengan istilah-istlahnya sendiri. Namun demikian, secara tegas  Suhrawardi  menyatakan bahwa dirinya bukan pangannut dualisme dan tidak menuduh mazhab Zahiriyah sebagai pengikut Zoroater. Sebaliknya, ia mengklaim dirinya sebagai aggota jamaah hukama Iran, pemilik keyakinan-keyakian “kebatinan: yang berdasarkan prinsip kesatuan ketuhanan dan pemilik sunnah yang tersembunyi di lubuk masyarakat Zoroaster.[4]
Dengan demikian, pemikiran isyraqi Suhrawardi bersandar pada sumber-sumber yagn beragam dan berbeda-beda, tidak hanya islam tetapi juga non-islam, meski secara garis besar bisa dikelompokkan dalam dua bagian : pemikiran filsafat dan sufisme. Namun, yang mesti diperhatikan adalah bukan berarti Suhrawardi melakukan pembersihan terhadap pemikiran-pemikiran sebelumnya. Ia justru mengkliam dirinya sebagai pemadu (pemersatu) antara apa yang disebut hikmah ladunniyah (genius) dan hikmah al–atiqah, menurutnya hikmah yang total dan universal adalah hikmah( pemikiran ) yang jelas tampak dalam berbgai ragam orang Hindu kuno, persia kuno, Babilonia, Mesir dan Yunani sampai masa aristetoles
Lebh jauh Suhraward bahkan mengklaim dirinya sebagai pertemuan dua cabang hikmah dunia. Menurutnya, juga menurut kebanyakan penulis abad pertengahan, hikmah diturunkan Tuhan kepada  manusia melauli nabi Idris ( hermes), sehingga ia di pandanng sebagai pendiri filsafat dan ilmu-ilmu (walid al-hukama’). Dari Hermes ini  hikmah ( filsafat) kemudian terbagi pada dua cabang : satunya di persia dan satunya di Mesir, yang di Mesir ini kemudian melebar ke Yunani. Selanjutnya, melalui dua cabang ini, khususnya di Persia dan Yunani bertemu kembali membentuk peradaban Islam.
C.      Pemikiran Filsafat Isyraqiyah
Salah satu ajaran pokok  isyraqiyah  adalah gradasi essensi. Ajaran penting yang lain, yang berkaitan dengan gradasi essensi adalah teori kognisi yang menekankan adanya kesadaran diri untuk meraih persamaan dan kesatuan antara pikiran dan realitas. Teori ini berkaitan dengan konsepnya tentang pengetahuan
 Bagi suhrawardi, apa yang disebut eksistensi hanya ada dalam pikiran. Gagasan umum maupun konsep tidak terdapat pada realitas. Sedang yang benar-benar ada atau realitas yang sesungguhnya hanyalah esensi-esensi yang tidak lain merupakan bentuk-bentuk cahaya.[5] Cahaya-cahaya inilah sesuatu yang nyata dengan dirinya sendiri karena ketidakadaanya berarti kegelapan yang tidak dikenali, namun demikian cahaya mempunya hierarki- hierarki dari yang paling atas sampai terbawah. Hal ini sama dengan filsafat emanasi dalam peritatetisme. Hanya saja dalam emanasi heararki- heararki atau tingkatan-tingkatan itu diidentikkkan dengan intelek
Dalam pemahaman tentang heararki- heararki wujud, semakin dekat pada sumber cahaya, maka intensitas cahaya suatu tingkatan wujud akan lebih banyak. Semakin jauh dari sumber cahaya maka akan lebih sedikit intensitas cahaya yang diterimanya. Yakni wujud yang lebih dekat kepada tuhan sebagai sumber cahaya akan lebih banyak menerima pancaran dari-Nya, sementara wujud yang jauh darinya semekin lemah intensitas cahayanya. Dan dengan demikian makin rendah tingkatannya dalam heararki keberadaan.
Persoalannya,  bagaimana realitas cahaya yang beragam tingkat intensitas penampakan tersebut keluar dari cahaya segala cahaya yang esa yang kuat kebenderangannya?. Gagasan suhrawardi  memang hampir sama dengan emanasinya yang dikembangkan oleh kaum neo platonis, akan tetapi suhrawardi lebih mengkombinasikan 2 proses sekaligus, hal inilah yeng menjadi ciri khas pemikiran suhrawardi. Pertama adanya emanasi dari masing-masing cahaya yang berada dibawah nur al-anwar. Cahaya – cahaya  ini benar-benar ada dan diperoleh tetapi tidak berbeda dengan nur al-anwar, Hanya intensitasnya saja yang menjadi ukuran perbedaannya. Kedua,  proses ganda iluminasi dan visi (pengelihatan) ketika cahaya pertama muncul, ia mempunyai visi langsung pada nur al-anwar tanpa durasi dan pada momen tersendiri, nur al-anwar menyinari sehingga menyalakan cahaya kedua dan zat serta kondisi yang dihubungkan dengan cahaya pertama. Cahaya kedua ini pada prosesnya menerima 3 cahaya, dari nur al-anwar secara langsung, dari cahaya pertama, dan dari nur al-anwar yang tembus melalui cahaya pertama
Sedang nur al-anwar itu sendiri bersifat tunggal karena, jika kita berasumsi tentang adanya 2 cahaya primer, kita akan terlibat kontradiksi bahwa keduanya harus berasal dari cahaya ketiga yang mesti bersifat tunggal.
Dari cahaya pertama, beremanasi cahaya – cahaya sekunder, benda-benda langit dan unsur-unsur fisik yang membentuk alam fisik. Unsur-unsur inilah yang disebut oleh suhrawardi dengan barzakh.

D.     Metode Mendapatkan Pemgatahuan
Prinsip dasar iluminasionis adalah bahwa mengetahui sesuatu berarti memperooleh pengalaman tentangnya,serupa dengan intuisi primer terhadap determinan-determinan sesuatu. Pengetahuan tentang sesuatu berdasarkan pengalaman dianalisis hanya setelah pengalaman intuitif yang total dan langsung tentangnya. Adakah sesuatu dalam pengalaman seorang subjek, demikian barang kali seseorang bertanya yang menuntut agar apa yang diperolehnya diungkapkan dalam bahasa simbolik yang dikontruksi secara khusus? Jawaban bagi pertanyaan ini harus diuji dari berbagai sudut pandang, tetapi jelaslah, bahkan pada tahap ini, bahwa bahasa iluminasi suhrawardi dimaksudkan sebagai kosakata khusus yang melalui bahasa itu pengalaman pengalaman iluminasi mungkin dapat dilukiskan.
 Sehubungan dengan hal itu, dia mengemukakan ke-empat tahap yang mesti di tempuh oleh setiap orang dalam proses mendapatkan pencerahan (isyraq)
Pertama tahap persiapan untuk menerima pengetahuan iluminatif dimulai dengan kegiatan meninggalkan dunia setelah uzlah atau mengasingkan diri selama empat puluh hari tidak makan daging, bersiap diri  untuk menerima nur ilahiah dan seterusnya, yang hampir sama dengan kegiatan asketik dan sufistik.hanya saja disni tidak ada konsep ahwal dan maqomat. Melalui aktivitas seperti ini dengan kekuatan  intuitif yang ada pada dirinya  yang disebut dengan cahaya  tuhan (al-bariq al ilahi) seseorang mengetahui realitas eksistensi dirinya dan mengenal kebenaran intuitifmya melalui ilham dan visi (musyahadah wa mukasyafah) oleh karena itu hal ini terdiri dari 1. aktivitas tertentu 2. kemampuan menyadari intuisinya sendiri sampai mendapatkan cahaya ilahiah. 3.ilham.
Tahap pertama membawa seseorang ke tahap ke dua yaitu tahap penerimaan dimana cahaya tuhan memasuki wujud manusia.cahaya ini mengambil bentuk sebagai serangkaian cahaya apokaliptik (al-anwar al-saniah) dan melalui cahaya tersebut pengetauhan yang berfungsi sebagai fondasi ilmu sejati diperoleh.
Tahap ketiga adalah  mengkontruksi pengetahuan yang valid dengan menggunakan analisis diskursif. Disini pengalaman diuji dan dibuktikan dengan sistem berfikir yang digunakan dalam demontrasi (burhan) aristotelian dalam posterior analytics. Sehingga dari situ bisa dibentuik suatu sistem dimana pengalaman tersebut dapat didudukan dan diuji validitasnya, meskipun pengalaman itu sendiri sudah berakhir.hal yang sama dapat diterapkan pada data-data yang didapat dari penangkapan indrawi, jika berkaitan dengan pengetauan iluminatif.
Tahap ke empat adalah pen-dokumentasian dalam bentuk tulisan atas pengetauan atau struktur yang dibangun dari tahap-tahap sebelumnya,dan inilah yang bisa diakses oleh orang lain.
Dengan demikian, pengetahuan dalam isyraqi tidak hanya mengandalkan kekuatan intuitif saja, melainkan juga kekuatan rasio. Ia menggabungkan  keduanya, metode intuitif dan diskursif, dimana cara intuitif digunakan untuk meraih  segala sesuatu yamg tidak tergapai oleh kekuatan rasio sehingga hasilnya merupakan pengetahuan yang tertinggi dan terpercaya.[6]

BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Dari pemaparan pembahasan maka dapat kami tarik kesimpulan sebagai berikut :
1.      Suhrawardi membangun aliran iluminasi sebagai tandingan dari aliran peripatetik yang terlebih dahulu mendahuluinya. Hal ini dilakukan Suhrawardi dalam rangka memadukan antara ajaran tawasuf/sufisme  dengan filsafat. Pandangan dia bahwa pengetahuan itu bukan hanya diperoleh dari hasil akal semata, akan tetapi dari rasa (dzauq) yang awalnya ditempuh dengan jalan mujahadah dan musyahadah.
2.      Sumber-sumber pemikiran isyraqiyah muncul dari 5 pemikiran 1.sufisme seperti  :al –hallaj dan al-Ghazali, 2. Filsafat parepatetik islam seperti ibnu Sina, 3. Filsafat pra-islam seperti pythagoras, platonisme dan Hermenisme 4. Hikmah Iran- kuno, dan 5. Zoroaster.
3.      Metode untuk mendapatkan pengetahuan menurut filsafat isyraqiyah Suhrawardi di bagi dalam 4 tahap, pertama: tahap persiapan untuk menerima pengetahuan iluminatif, dengan melakukan aktivitas tertentu dan kondisi seseorang menyadari intiusinya sendiri dan ilham. Kedua: tahap penerimaan , diman cahaya tuhan memasuki diri manusia, ketiga; tahap pembangunan pengetahuan valid dengan menggunakan analisis diskursif, ke empat; tahap pelukisan atau dokumentasi dalam bentuk tulisan atas pengetahuan  yang yang telah di bangun dari tahap-tahap sebelumnya  










DATAR RUJUKAN

Fakhry, Majid,  Sejarah Filsafat Islam, Sebuah Peta Kronologis, terj, Zaimul Am, Bandung: Mizan, 2002
Hossein Nasr, Sayyed, Oliver Leaman,Ensiklopedis Tematis Filsafat Islam, Buku Ke 1,terj. Tim penerjemah mizan,bandung, mizan, 2003
Shaleh, A. Khudori, Wacana Baru Filsafat Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2004




[1]. A Khudori Soleh, Wacana Baru filsafat Islam hal.120

[2]  Sayyed, Hossein Nasr,Oliver Leaman,Ensiklopedis Tematis Filsafat Islam, Buku Ke 1 hal 558
[3] Majid fakhry,  Sejarah Filsafat Islam; Sebuah Peta Kronologis , terj. Zainul AM,hal 130

[4]  A. Khudlori Sholeh, wacana barufilsafat islam.  Hal 121
[5] A. Khudlori sholeh  wacana baru filsafat islam  hal.  124
[6] A Khudori Soleh, Wacana Baru filsafat Islam hal.132

Tidak ada komentar:

Posting Komentar