KATA
PENGANTAR .............................................................................. 1
DAFTAR ISI .............................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................... 3
A.
LATAR
BELAKANG .................................................................. 4
B.
RUMUSAN
MASALAH .............................................................. 4
C.
TUJUAN
PEMBAHASAN .......................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN .......................................................................... 4
A.
Pengertian
filsafat Isyraqiyah ....................................................... 4
B.
Sumber-Sumber
Pemikiran Isyraqiyah ............................................ 6
C.
Pemikiran
filsafat iysraqiyah ........................................................... 7
D.
Metode
Mendapatkan Pengetahuan ............................................ 8
BAB III KESIMPULAN............................................................................ 10
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 11
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Filsafat Islam
merupakan suatu ilmu yang masih diperdebatkan pengertian dan cakupannya oleh
para ahli tetapi banyak ahli mengatakan bahwa Filsafat Islam itu memang ada
terbukti exis sampai sekarang. Dalam dunia filsafat Islam terdapat dua aliran
besar yaitu aliran peripatetis dan iluminasi. Mengerti dan mengetahui kedua
aliran ini adalah hal yang sangat penting ketika kita ingin mengkaji filsafat
Islam, karena semua filsuf khususnya muslim pada akhirnya merujuk dan berkaitan
kepada dua aliran ini.
Aliran peripatetik
merupakan aliran yang pada umumnya diikuti oleh kebanyakan filsuf, sedangkan
aliran iluminasi merupakan tandingan bagi aliran peripatetik. Aliran iluminasi
ini dipelopori oleh seorang tokoh filsuf muslim yaitu Suhrawardi al Maqtul yang
dikenal juga dengan sebutan bapak iluminasi. Suhrawardi dikenal dalam kajian
Filsafat Islam karena kontribusinya yang sangat besar dalam mencetuskan aliran
iluminasi sebagai tandingan aliran peripatetik dalam filsafat, walaupun dia
masih dipengaruhi oleh para filsuf barat sebelumnya. Hal ini tidak dapat
dipungkiri karena sebagian atau bahkan keseluruhan bangunan Filsafat Islam ini
dikatakan kelanjutan dari filsafat barat yaitu Yunani. Hal pemikiran Suhrawardi
dalam filsafat yang paling menonjol adalah usahanya untuk menciptakan ikatan
antara tasawuf dan filsafat. Dia juga terkait erat dengan pemikiran filsuf
sebelumnya seperti Abu Yazid al Busthami dan al Hallaj, yang jika diruntut ke
atas mewarisi ajaran Hermes, Phitagoras, Plato, Aristoteles, Neo Platonisme,
Zoroaster dan filsuf-filsuf Mesir kuno. Kenyataan ini secara tidak langsung
mengindikasikan ketokohan dan pemikirannya dalam filsafat.
Dalam
kesempatan ini penyusun akan mencoba memaparkan Filsafat isyraqiyah Suhrawardi, tapi walaupun demikian penyusun
menyadari dalam penyusunan makalah ini banyak sekali kekurangan baik dari segi
penulisan ataupun dari segi pemaparannya dikarenakan kedangkalan ilmu penyusun
dalam memahami Filsafat isyraqiyah Suhrawardi. Untuk itu penyusun meminta saran
dan kritiknya terhadap makalah ini.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa pengertian
filsafat isyraqiyah ?
2.
Apa
sumber-sumber pemikiran isyraqiyah ?
3.
Apa
pemikiran filsafat isyraqiyah ?
4.
Bagaimana
metode mendapatkan pengetahuan menurut filsafat israqiyah?
C.
TUJUAN
PEMBAHASAN
1.
Untuk
mengetahui pengertian filsafat isyraqiah
2.
Untuk mengetahui sumber-sumber pemikiran isyraqiyah
3.
Untuk
mengetahui pemikiran filsafat isyraqiyah
4.
Untuk
mengetahui metode mendapatkan pengetahuan menurut filsafat isyraqiyah
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian filsafat isyraqiyah
Kata
isyraq yang mempunyai padanan llumination dalam bahasa inggris mempunyai arti
cahaya atau penerangan. Dalam bahasa filsafat, iluminationisme berarti sumber
kontemplasi atau perubahan bentuk dari kehidupan emosional untuk mencapai
tindakan dan harmoni. Bagi kaum isyraq apa yang disebut hikmah bukanlah sekedar
teori yang diyakini melainkan perpindahan rohani secara praktis dari alam
kegelapan yang didalamya pengetahuan dan kebahagiaan. Merupakan sesuatu yang
mustahill, kepada cahaya yang bersifat akali yang didalamnya pengetahuan dan
kebahagiaan dicapai bersama-sama. Karena itu menurut kaum isyraqi sumber
pengetahuan adalah penyinaran yang itu berupa semacam hads yang
menghubungkan dengan subsatansi cahaya.[1]
Lebih
jauh, cahaya adalah simbol utama dari filsafat isyraqi. Simbolisme
cahaya digunakan untuk menetapkan suatu faktor yang menentukan wujud, bentuk,
materi, hal-hal masuk akal yang primer dan sekunder, intelek, jiwa, zat
individual dan tingkat-tingakat intensitas pengalaman mistik. Jelasnya
penggunaan simbol-simbol cahaya merupakan karakter dari bangunan filsafat
isyraqiah.
Simbolisme
cahaya digunakan oleh suhrawardi untuk menggambarkan masalah-masalah ontologis
dan khususnya untuk memaparkan struktur-struktur kosmologis. Sebagai contoh
wujud niscaya (swa ada) dalam peripatetik disebut cahaya dari segala cahaya
(nur al-anwar), intelek-intelek terpisah disebut cahaya-cahaya abstrak (anwar
mujarradah).[2] Tampaknya simbolisme cahaya dinilai lebih cocok
dan sesuai untuk menyampaikan prinsip ontologis wujud ekuivokal, karena lebih
mudah dipahami bahwa cahaya mungkin mempunyai intensitas yang berbeda meskipun
esensinya sama. Dan juga dianggap lebih dapat diterima untuk membahas kedekatan
dan kejauhan dari sumber sebagai indikasi akan derajat kesempurnaan ketika
simbolisme digunakan. Sebagai contoh semakin dekat suatu entitas dengan
sumbernya yaitu cahaya dari segala cahaya, maka semakin terang cahaya entitas
tersebut. Sedangkan ketidakadaan cahaya atau kegelapan mengidentikkan ketidak
wujudan (non wujud).
Hikmah
yang didasarkan pada dualisme cahaya dan kegelapan yang ketimuran ini menurut
suhrawardi merupakan warisan para guru mistis persia. Hikmah ini sebenarnya
terwakili di barat seperti plato. Al-bhusthomi dan al-hallajj melanjutkan
tradisi ini dan puncaknya ada pada diri suhrawardi sendiri.[3]
Inti hikmah iluminasi bagi
suhrawardi adalah ilmu cahaya yang membahas sifat dan cara pembiasannya. Cahaya
ini menurutnya tidak dapat di definisikan karena ia merupakan realitas yang paling
nyata sekaligus menampakkan sesuatu. Cahaya ini juga merupakan substansi yang
masuk kedalam komposisi semua substansi yang lain-meteril maupun imateril.
hubungannya dengan objek-objek dibawahnya cahaya ini memiliki dua bentuk yaitu,
cahaya yang terang pada dirinya sendiri dan cahaya yang terang sekaligus
menerangi lainnya. Cahaya yang terakhir ini menerangi segala sesuatu, namun bagaimana
statusnya, cahaya tetaplah sesuatu yang terang dan sebagaimana disebutkan ia
merupakan sebab tampaknya sesuatu yang tidak bisa tidak beremanassi darinya.
B.
Sumber-Sumber Pemikiran Isyraqiyah
Tentang sumber-sumber pengetahuan yang membentuk pemikiran isyraqi suhrawardi, menurut SH, Nasr yang
dikutip oleh A. Khodlori sholeh, terdiri
atas lima aliran. Pertama pemikiran-pemikiran sufisme, khususnya
karya-karya al- Hallaj(858-913 M) dan al- Ghazali (1058-1111 M). Salah
satu karya al- Ghazali, misykat
al-Anwar, yang menjelaskan adanya
hubungan anatara nur (cahaya) dengan iman, mempunyai pengaruh langsung
pada pemikiran illuminasi Suhrawarsi. Kedua, pemikiran filsafat parepatik Islam khususnya
filsafat ibnu Sina. Meski Suhrawardi mengkritik sebagiannya tetapi ia memandangnya
sebagai azas penting dalam memahami keyakinan-keyakinan. Ketiga, pemikiran filsafat sebelum islam,
yakni aliran Pyithagoras( 580-500 SM), Platonisme dan Hermenisme sebagaimana
yang tumbuh di alexanderia, kemudian dipelihara dan di sebarkan di timur Dekat
Kaum syabiah Harran, yang memandang kumpulan aliran Hermes sebagai kitab samawi
mereka. Keempat, pemikiran-pemikran (hikmah) iran-Kuno. Disini suhrawardi mencoba
membangkitkan keyakinan-keyakinannya secara baru dan memandang para pemikir
Iran-kuno sebagai pwaris langung hikmah yang turun sebelum datanganya bencana
taufan yang menimpa kaum Nabi Idris (Hermes), Kelima, bersandar pada ajaran Zoroater dalam
menggunakan lambang-lambang cahaya dan kegelapan, khususunya dalam ilmu
malaikat, yang kemudian di tambah dengan istilah-istlahnya sendiri. Namun
demikian, secara tegas Suhrawardi menyatakan bahwa dirinya bukan pangannut dualisme
dan tidak menuduh mazhab Zahiriyah sebagai pengikut Zoroater. Sebaliknya, ia
mengklaim dirinya sebagai aggota jamaah hukama Iran, pemilik
keyakinan-keyakian “kebatinan: yang berdasarkan prinsip kesatuan ketuhanan dan
pemilik sunnah yang tersembunyi di lubuk masyarakat Zoroaster.[4]
Dengan demikian, pemikiran isyraqi Suhrawardi bersandar pada
sumber-sumber yagn beragam dan berbeda-beda, tidak hanya islam tetapi juga
non-islam, meski secara garis besar bisa dikelompokkan dalam dua bagian :
pemikiran filsafat dan sufisme. Namun, yang mesti diperhatikan adalah bukan
berarti Suhrawardi melakukan pembersihan terhadap pemikiran-pemikiran
sebelumnya. Ia justru mengkliam dirinya sebagai pemadu (pemersatu) antara apa
yang disebut hikmah ladunniyah (genius) dan hikmah al–atiqah, menurutnya hikmah
yang total dan universal adalah hikmah( pemikiran ) yang jelas tampak dalam
berbgai ragam orang Hindu kuno, persia kuno, Babilonia, Mesir dan Yunani sampai
masa aristetoles
Lebh jauh Suhraward bahkan mengklaim dirinya sebagai pertemuan dua
cabang hikmah dunia. Menurutnya, juga menurut kebanyakan penulis abad
pertengahan, hikmah diturunkan Tuhan kepada
manusia melauli nabi Idris ( hermes), sehingga ia di pandanng sebagai
pendiri filsafat dan ilmu-ilmu (walid al-hukama’). Dari Hermes ini hikmah ( filsafat) kemudian terbagi pada
dua cabang : satunya di persia dan satunya di Mesir, yang di Mesir ini kemudian
melebar ke Yunani. Selanjutnya, melalui dua cabang ini, khususnya di Persia dan
Yunani bertemu kembali membentuk peradaban Islam.
C.
Pemikiran Filsafat Isyraqiyah
Salah satu ajaran pokok isyraqiyah adalah gradasi essensi. Ajaran penting yang
lain, yang berkaitan dengan gradasi essensi adalah teori kognisi yang
menekankan adanya kesadaran diri untuk meraih persamaan dan kesatuan antara
pikiran dan realitas. Teori ini berkaitan dengan konsepnya tentang pengetahuan
Bagi suhrawardi, apa yang disebut eksistensi hanya ada dalam
pikiran. Gagasan umum maupun konsep tidak terdapat pada realitas. Sedang yang
benar-benar ada atau realitas yang sesungguhnya hanyalah esensi-esensi yang
tidak lain merupakan bentuk-bentuk cahaya.[5] Cahaya-cahaya inilah sesuatu yang nyata dengan
dirinya sendiri karena ketidakadaanya berarti kegelapan yang tidak dikenali,
namun demikian cahaya mempunya hierarki- hierarki dari yang paling atas sampai
terbawah. Hal ini sama dengan filsafat emanasi dalam peritatetisme. Hanya saja
dalam emanasi heararki- heararki atau tingkatan-tingkatan itu diidentikkkan
dengan intelek
Dalam pemahaman tentang heararki- heararki wujud,
semakin dekat pada sumber cahaya, maka intensitas cahaya suatu tingkatan wujud
akan lebih banyak. Semakin jauh dari sumber cahaya maka akan lebih sedikit
intensitas cahaya yang diterimanya. Yakni wujud yang lebih dekat kepada tuhan
sebagai sumber cahaya akan lebih banyak menerima pancaran dari-Nya, sementara
wujud yang jauh darinya semekin lemah intensitas cahayanya. Dan dengan demikian
makin rendah tingkatannya dalam heararki keberadaan.
Persoalannya, bagaimana realitas cahaya yang
beragam tingkat intensitas penampakan tersebut keluar dari cahaya segala cahaya
yang esa yang kuat kebenderangannya?. Gagasan suhrawardi memang hampir
sama dengan emanasinya yang dikembangkan oleh kaum neo platonis, akan tetapi
suhrawardi lebih mengkombinasikan 2 proses sekaligus, hal inilah yeng menjadi
ciri khas pemikiran suhrawardi. Pertama adanya emanasi dari
masing-masing cahaya yang berada dibawah nur al-anwar. Cahaya – cahaya
ini benar-benar ada dan diperoleh tetapi tidak berbeda dengan nur al-anwar,
Hanya intensitasnya saja yang menjadi ukuran perbedaannya. Kedua,
proses ganda iluminasi dan visi (pengelihatan) ketika cahaya pertama muncul, ia
mempunyai visi langsung pada nur al-anwar tanpa durasi dan pada momen
tersendiri, nur al-anwar menyinari sehingga menyalakan cahaya kedua dan zat
serta kondisi yang dihubungkan dengan cahaya pertama. Cahaya kedua ini pada
prosesnya menerima 3 cahaya, dari nur al-anwar secara langsung, dari cahaya
pertama, dan dari nur al-anwar yang tembus melalui cahaya pertama
Sedang nur al-anwar itu sendiri bersifat tunggal
karena, jika kita berasumsi tentang adanya 2 cahaya primer, kita akan terlibat
kontradiksi bahwa keduanya harus berasal dari cahaya ketiga yang mesti bersifat
tunggal.
Dari cahaya pertama, beremanasi cahaya – cahaya
sekunder, benda-benda langit dan unsur-unsur fisik yang membentuk alam fisik.
Unsur-unsur inilah yang disebut oleh suhrawardi dengan barzakh.
D.
Metode Mendapatkan
Pemgatahuan
Prinsip
dasar iluminasionis adalah bahwa mengetahui sesuatu berarti memperooleh
pengalaman tentangnya,serupa dengan intuisi primer terhadap
determinan-determinan sesuatu. Pengetahuan tentang sesuatu berdasarkan
pengalaman dianalisis hanya setelah pengalaman intuitif yang total dan langsung
tentangnya. Adakah sesuatu dalam pengalaman seorang subjek, demikian barang
kali seseorang bertanya yang menuntut agar apa yang diperolehnya diungkapkan
dalam bahasa simbolik yang dikontruksi secara khusus? Jawaban bagi pertanyaan
ini harus diuji dari berbagai sudut pandang, tetapi jelaslah, bahkan pada tahap
ini, bahwa bahasa iluminasi suhrawardi dimaksudkan sebagai kosakata khusus yang
melalui bahasa itu pengalaman pengalaman iluminasi mungkin dapat dilukiskan.
Sehubungan dengan hal itu, dia
mengemukakan ke-empat tahap yang mesti di tempuh oleh setiap orang dalam proses
mendapatkan pencerahan (isyraq)
Pertama
tahap persiapan
untuk menerima pengetahuan iluminatif dimulai dengan kegiatan meninggalkan
dunia setelah uzlah atau mengasingkan diri selama empat puluh hari tidak makan daging, bersiap
diri untuk menerima nur ilahiah dan seterusnya, yang hampir sama dengan
kegiatan asketik dan sufistik.hanya saja disni tidak ada konsep ahwal dan
maqomat. Melalui aktivitas seperti ini dengan kekuatan intuitif yang ada
pada dirinya yang disebut dengan cahaya tuhan (al-bariq al ilahi)
seseorang mengetahui realitas eksistensi dirinya dan mengenal kebenaran
intuitifmya melalui ilham dan visi (musyahadah wa mukasyafah) oleh karena itu
hal ini terdiri dari 1. aktivitas tertentu 2. kemampuan menyadari intuisinya
sendiri sampai mendapatkan cahaya ilahiah. 3.ilham.
Tahap
pertama membawa
seseorang ke tahap ke dua yaitu tahap penerimaan dimana cahaya tuhan memasuki
wujud manusia.cahaya ini mengambil bentuk sebagai serangkaian cahaya
apokaliptik (al-anwar al-saniah) dan melalui cahaya tersebut pengetauhan yang
berfungsi sebagai fondasi ilmu sejati diperoleh.
Tahap
ketiga
adalah mengkontruksi pengetahuan yang valid dengan menggunakan analisis
diskursif. Disini pengalaman diuji dan dibuktikan dengan sistem berfikir yang
digunakan dalam demontrasi (burhan) aristotelian dalam posterior analytics.
Sehingga dari situ bisa dibentuik suatu sistem dimana pengalaman tersebut dapat
didudukan dan diuji validitasnya, meskipun pengalaman itu sendiri sudah
berakhir.hal yang sama dapat diterapkan pada data-data yang didapat dari
penangkapan indrawi, jika berkaitan dengan pengetauan iluminatif.
Tahap
ke empat
adalah pen-dokumentasian dalam bentuk tulisan atas pengetauan atau struktur
yang dibangun dari tahap-tahap sebelumnya,dan inilah yang bisa diakses oleh
orang lain.
Dengan
demikian, pengetahuan dalam isyraqi tidak hanya mengandalkan kekuatan intuitif
saja, melainkan juga kekuatan rasio. Ia menggabungkan keduanya, metode
intuitif dan diskursif, dimana cara intuitif digunakan untuk meraih
segala sesuatu yamg tidak tergapai oleh kekuatan rasio sehingga hasilnya
merupakan pengetahuan yang tertinggi dan terpercaya.[6]
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Dari pemaparan pembahasan maka dapat kami tarik kesimpulan sebagai
berikut :
1.
Suhrawardi membangun
aliran iluminasi sebagai tandingan dari aliran peripatetik yang terlebih dahulu
mendahuluinya. Hal ini dilakukan Suhrawardi dalam rangka memadukan antara
ajaran tawasuf/sufisme dengan filsafat. Pandangan
dia bahwa pengetahuan itu bukan hanya diperoleh dari hasil akal semata, akan
tetapi dari rasa (dzauq) yang awalnya ditempuh dengan jalan mujahadah dan
musyahadah.
2.
Sumber-sumber pemikiran
isyraqiyah muncul dari 5 pemikiran 1.sufisme seperti :al –hallaj dan al-Ghazali, 2. Filsafat parepatetik
islam seperti ibnu Sina, 3. Filsafat pra-islam seperti pythagoras, platonisme
dan Hermenisme 4. Hikmah Iran- kuno, dan 5. Zoroaster.
3.
Metode untuk
mendapatkan pengetahuan menurut filsafat isyraqiyah Suhrawardi di bagi dalam 4
tahap, pertama: tahap persiapan untuk menerima pengetahuan iluminatif, dengan
melakukan aktivitas tertentu dan kondisi seseorang menyadari intiusinya sendiri
dan ilham. Kedua: tahap penerimaan , diman cahaya tuhan memasuki diri manusia,
ketiga; tahap pembangunan pengetahuan valid dengan menggunakan analisis
diskursif, ke empat; tahap pelukisan atau dokumentasi dalam bentuk tulisan atas
pengetahuan yang yang telah di bangun
dari tahap-tahap sebelumnya
DATAR RUJUKAN
Fakhry, Majid, Sejarah Filsafat Islam,
Sebuah Peta Kronologis, terj, Zaimul Am, Bandung: Mizan, 2002
Hossein Nasr, Sayyed, Oliver Leaman,Ensiklopedis
Tematis Filsafat Islam, Buku Ke 1,terj. Tim penerjemah
mizan,bandung, mizan, 2003
Shaleh,
A. Khudori, Wacana Baru Filsafat Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2004
Tidak ada komentar:
Posting Komentar